Ketika saya lahir, orang tua apalagi saya yang masih bayi tidak pernah berpikir atau membayangkan bahwa suatu waktu saya akan meninggal. Berjalannya waktu itu sendiri membuat saya akhirnya berpikir lebih tepatnya menyadari bahwa kematian orang tua saya, ataupun orang-orang lain yang sudah meninggal terlebih dahulu dengan saya hanya soal waktu saja.
Tidak ada bedanya sebenarnya kematian manusia dengan kematian binatang, karena manusia dan binatang sama-sama menuju kedalam satu lubang kubur.
Tetapi ada yang membedakan antara manusia dengan binatang yaitu: Roh. Roh inilah yg digunakan oleh manusia selama manusia hidup untuk menyembah Tuhan sebagai persyaratan dari Allah jika manusia itu ingin mendapat hidup yang kekal. Dan ini merupakan harga mati dari Allah itu sendiri.
Kalau flash back ke masa lalu, saya terkadang tertawa sendiri, merasa hebat, merasa punya uang dan dapat melakukan apapun tanpa menyadari kalau saya tidak ada apa-apa yang patut saya banggakan. Keluar dari rasa takut akan Allah itu yang berbahaya buat saya, dimana roh sudah tidak lagi menyembah, mulut sudah tidak lagi memuji Allah, Yesus Kristus Tuhan.
Syukur kepada Allah yang oleh anak-Nya, Yesus Kristus Tuhan, membuktikan kepada saya bahwa "walaupun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju.
Waktu terus berjalan dan semakin hari semakin tua dengan bertambahnya usia, namun perjuangan untuk mendapatkan hidup yang kekal dengan hidup kudus terus berjalan, sampai langkah dan nafas saya berhenti di suatu titik kematian dengan Roh.
Michael D Katiandagho